Keliatan Nih.. Ada Tulisan “Dilarang Buang Sampah Disini!”

Seorang teman mengirimkan gambar tulisan Allah di BBM Group, yang mana tulisan ini ada dua buah titik yang jika kita lihat selama 9 detik (katanya), setelah itu kita melihat tembok, maka akan terlihat bayangan tulisan Allah di tembok tersebut. Namun saya comment gambar tersebut dengan tulisan Keliatan nih.. ada tulisan “dilarang buang sampah disini!”

Tulisan ini kelihatan seperti bercanda dan kelihatan begitu frontal. Tapi kenapa saya bilang seperti ini? Pasti semuanya beranggapan saya bercanda, dan ini sama sekali tidak lucu!! Bahkan seseorang dalam group langsung berkata, “joke kamu tidak lucu!!, masa tulisan Allah disamakan dengan tulisan “dilarang buang sampah”?. Serta banyak juga yang diam tidak memberikan komentar.

Maaf kalau saya agak terlihat frontal disini. Bukankah banyak orang-orang yang melihat Allah itu hanya sebuah tulisan? Menjadikan Allah menjadi tulisan yang dipajang di rumah, di mobil, dibuat kalung, stiker, profile picture dan lain-lain.

Banyak orang yang pergi haji berulang-ulang kali, seorang uztad, seorang alim ulama, tetapi melakukan perbuatan korupsi dan perbuatan tercela lainnya. Padahal orang-orang ini seharusnya lebih mengetahui agama, tapi kenapa mereka masih melakukan hal dosa?

Jika kita memandang Allah itu ada dan bukan hanya sekedar tulisan, mengapa selalu ada korupsi, pembunuhan, tawuran pelajar, dan lain-lain? Bahkan ada seorang guru ngaji yang mencabuli anak muridnya sendiri? Lantas buat apa setiap hari guru tersebut mengaji dan mengajarkan orang lain?

Apakah Anda pernah melihat tulisan “Dilarang buang sampah disini!!”? Jika Anda melihat tulisan seperti itu coba perhatikan sekelilingnya, malah terdapat sampah-sampah berserakan. Ini berarti tulisan ini hanya sekadar pemandangan saja, tanpa kita merasa tulisan ini sesungguhnya sangat berarti.

Berarti secara tidak langsung mereka menganggap Allah itu sebagai tulisan saja. Lantas, apa bedanya dengan tulisan “Dilarang buang sampah disini”? Mereka-pun hanya menganggap hal ini sama-sama tulisan yang bertujuan sebagai pajangan saja, tanpa melihat apa makna dibalik tulisan itu.

Seharusnya, Allah bukan tulisan pajangan, Allah adalah Tuhan kita yang seharusnya kita cintai. Begitu-pun ketika kita melihat tulisan “Dilarang buang sampah disini”. Itu ada maksud tertentu, agar kita bisa disiplin tidak buang sampah sembarangan, dan tidak menyebabkan kebanjiran.

Sekarang jika ada dua pilihan, mana yang Anda pilih? orang beragama atau orang baik?

Setelah saya baca buku You Are Not Alone-nya Arvan Pradiansyah saya benar-benar tersentuh. Sesungguhnya banyak yang beranggapan agama itu berbeda dengan spiritual. Ini yang mengakibatkan kita bisa menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan menjalankan juga hal-hal yang dilarang. Kita tidak mengganggap Allah itu ada, dan Allah itu memperhatikan. Serta menanggap Allah adalah sebuah “tulisan”.

Nilai-nilai spiritualitas yang seharusnya ada dalam agama sudah bergeser sedikit demi sedikit dan tidak dipedulikan lagi. Bukankah seharusnya agama Islam itu agama yang mengajarkan kasih, damai dan indahnya kehidupan? Bukankah esensi dari agama yaitu spiritualitas?

Banyak yang bilang Allah ada dimana-mana, seperti di tempat ibadah dan tempat-tempat mulia lainnya. Berarti Allah tidak ada di tempat dugem, kamar mandi, atau tempat maksiat? Hal ini yang menurut saya SALAH KAPRAH. Dalam kalimat “You Are Not Alone” di buku Arvan Pradiansyah ini ternyata mempunyai makna yang begitu dalam, dan ini yang membuat kita selalu merasakan adanya Allah. Allah itu sebenarnya ada ketika kita membiarkan-Nya masuk. Allah itu ada dalam hati kita.

Dalam buku tersebut ada pembahasan paradigma kita dalam beribadah, yaitu:

1. Paradigma Pertama: Perasaan Takut. Orang yang menganut paradigma ini hanya karena perasaan takut masuk neraka. Inilah tingkatan terendah dalam beribadah.

2. Paradigma Kedua: Perhitungan Untung Rugi. Orang yang menganut paradigma ini melakukan amal kebaikan untuk mendapatkan reward saja, yaitu masuk surga.

3. Paradigma Ketiga: Perasaan Cinta. Orang yang menganut paradigma ini tidak memperdulikan ganjaran yang ia terima dari perbuatan baiknya. Baginya kenikmatan yang tertinggi yaitu ketika dia berdialog dengan Allah, dalam ibadahnya.

Mari kita renungkan bersama-sama dimana paradigma kita berada saat ini. Mohon maaf jika dalam tulisan saya ini menyinggung perasaan dan terlalu frontal. Semoga tulisan ini bisa berarti buat kita semua dan kembalikan kita ke jalan yang benar.

 

 

 

Categories: Article | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: